Lenyapnya Ikon Pohon Palem Raja Depan Seminari Mertoyudan

0
781

BANYAK alumni Seminari Mertoyudan lintas angkatan berseru menyayangkan dan ‘menangisi’ dirobohkannya semua pohon palem raja yang telah tumbuh tinggi di sepanjang lorong masuk kompleks seminari. Apalagi kalau harus melihat faktor sejarahnya nan jauh di belakangnya.

Semua pohon palem raja ini umurnya kurang lebih sudah 50 tahun. Keberadaan pohon palem raja ini seakan telah menjadi ‘ikon’ visual paling menarik Seminari Menengah Mertoyudan, ketika langkah kita mulai memasuki lorong masuk kompleks maha luas yang menjadi tempat pendidikan calon imam paling tua di Indonesia ini.

Hari Kamis tanggal 21 Juli 2016 ini, semua pohon palem raja tersebut akhirnya ditebang habis sampai pokok dasarnya dan batangnya kemudian digerjaji kecil-kecil.

Beberapa pertimbangan teknis dan manusiawi

Sebelumnya, diskusi hebat mengenai perlu-tidaknya penebangan pohon-pohon palem raja  yang telah menjadi ‘ikon’ Seminari Mertoyudan ini memang sudah diretas beberapa pekan lalu. Salah satu pokok bahasan yang diangkat ke tahap diskusi itu antara lain beberapa pertimbangan sebagai berikut:

  • Pohon-pohon palem raja itu umurnya kurang lebih sudah 50 tahun sehingga menjadi pertanyaan bagi semua pastor dan bruder pengampu Seminari Mertoyudan: Apakah batang palem raja  ini masih kuat dan kokoh menahan berat pohon dan masih sangguh bertahan menghadapi, misalnya, serangan angin kencang?
  • Sifat khas pohon palem raja adalah tekstur batangnya yang menjadi sedemikian tinggi ndlujur ke atas dari bawah. Di luaran memang masih tampak gagah nan anggun,  namun bisa jadi kondisi dalam rongga batangnya itu sudah mulai lapuk dan kopong.
  • Kondisi demikian ini akan menjadi masalah serius, kalau saja tiba-tiba pohon besar dengan ketinggian mencapai kisaran 25-30 meter ini lalu roboh tak terkendali sehingga bisa menewaskan kerumunan orang dan menimpa mobil para orangtua atau tetamu yang lagi bertandang ke seminari.
  • Lalu, pelepahnya yang kering dan karena posisinya itu sedemikian tinggi sehingga susah “dibersihkan”, maka kalau pelepah kering itu jatuh dan sampai  menimpa orang malah akan menimbulkan masalah serius.
seminari-mertoyudan-halaman-depan
Pohon-pohon palem raja ini selama hampir 50 tahun terakhir seakan telah menjadi ‘ikon’ visual paling menarik, begitu langkah kita datang memasuki lorong kompleks masuk Seminari Mertoyudan di Magelang. (Mathias Hariyadi)

Dahan pohon lapuk  jatuh menimpa seminaris hingga tewas di tempat

Beberapa pertimbangan di atas muncul dalam diskusi, setelah beberapa tahun lalu ada seorang seminaris bernama Ignatius Destian Kristiadi sampai menjadi korban tewas. Tengkuk leher seminaris ini kejatuhan dahan pohon yang lapuk dan tiba-tiba meluncur kencang karena sudah kering dan terlambat dibersihkan.

Catatan Sesawi.Net edisi Minggu, 9 Desember 2012, menulis sebagai berikut:

Mendung duka cita merambah setiap sudut kompleks Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Minggu (9/12) pagi ini. Direktur Seminari Mertoyudan Romo Gandhi SJ menuturkan, pagi tadi ada seorang seminaris yang meninggal dunia karena kejatuhan dahan pohon besar.

Nama seminaris yang meninggal dunia karena kejatuhan dahan pohon besar adalah Ignatius Destian Kristiadi, seminaris Kelas Persiapan Pertama (KPP) asal Banyu Temumpang.

Kejadiannya sungguh sangat memilukan.

seminaris tewas kejatuhan pohon
Ignatius Destian Kristiadi, seminaris Kelas Persiapan Pertama (KPP), tewas tertimpa dahan pohon yang lapuk dan tiba-tiba jatuh mengenai dirinya. Seminaris malang ini tengah bercengkerama bersama kakaknya yang juga seminaris di Kelas Persiapan Atas (KPA) dan kedua orangtua mereka yang datang mengunjungi untuk bertemu dengan kedua anaknya, para seminaris calon imam. Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Minggu siang, tanggal 9 Desember 2012. (F. Widya Kiswara)

Menurut kebiasaan di Seminari Mertoyudan, Minggu pertama biasanya merupakan kesempatan bagi orangtua para seminaris untuk mengunjungi putera mereka yang hidup dan tinggal di asrama Seminari. Tak lupa juga, almarhum Destian juga mendapat kunjungan orangtuanya, karena sekaligus mereka bisa mengunjungi kakak kandung Destian yang juga seminaris di Kelas Persiapan Atas (KPA).

Untung tak dapat diraih dan malang pun tak dapat ditolak.

Ketika kakak-beradik ini tengah bercengkarama bersama kedua orangtua mereka di halaman depan kampus Seminari Mertoyudan, tiba-tiba saja braaaak sebuah dahan besar pepohonan runtuh dan langsung menjatuhi kedua seminaris kakak-beradik ini secara simultan.

Destian mengalami luka parah dan nyawanya tidak bisa diselamatkan, sementara kakaknya mengalami luka-luka tidak terlalu serius.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Minggu, pukul 11.00 menjelang makan siang.

Tak ayal, keluarga besar Seminari Mertoyudan pun heboh dan teriris pilu menyaksikan kedukaan yang mendalam terjadi di depan mata mereka.

Baca juga: 

Pro-kontra

Mayoritas alumni menyayangkan keputusan “membabat habis” pohon-pohon kenangan yang seakan telah memberi warna gagah sekaligus elegan di sepanjang lorong masuk kompleks seminari ini. “Itu warisan sejarah,” kata Laurentius Suryoto, alumnus tahun masuk 1972.

“Pohon juga punya jiwa. Sudahkah berbicara dengan pohon-pohon itu sebelum akhirnya menebangnya,” ungkap Koekoeh Hadi Santoso, juga alumnus tahun masuk 1985.

Yang setuju, misalnya, Ignatius Suhendra mengatakan, memng sudah saatnya dilakukan peremajaan terhadap pohon-pohon palem raja tersebut. Idealnya, kata pengusaha yang bergerak di bidang tanaman ini, pohon palem raja itu sebaiknya jangan sampai  mencapai ketinggian di atas 8 meter. Bila menjadi lebih tinggi, siapa yang mampu mengelolanya?

Pasti butuh tangga super tinggi dan istimewa untuk bisa ‘menjangkau’ ketinggian tersebut. Taruhlah itu tangga khusus milik PLN atau Pemadam Kebakaran. Seminari Mertoyudan sudah pastilah tidak punya tangga setinggi itu, maka keputusan meremajakan pepohonan itu dianggap tepat. Belum lagi kalau harus mengingat peristiwa jatuhnya dahan kering hingga menimpa tengkuk seorang seminaris hingga tewas di tempat.

Saat itu, seminaris yang bernasib nahas ini tengah  duduk-duduk di taman depan seminari bersama kakak kandung dan kedua orangtua mereka yang datang mengunjunginya. “Akhir Juni dan awal Juli 2016 lalu, dua pelepahnya yang sudah kering juga jatuh dan untungnya tidak makan korban menimpa manusia, motor atau mobil orang,” tulis Suhendra Sie, alumnus Novisiat Girisonta dan tinggal di Semarang ini.

Maka usulan pengganti tanaman pun marak dibicarakan. Ada yang usul sebaiknya diganti pohon dengan ‘karakter’ sejenis: tinggi besar, memanjang dlujur ke atas. Usulan itu mengarah pada pohon damar yang kurang lebih punya ciri sama.

Lalu, Prof Koerniamanto Soetoprawiro dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung mengusulkan sebaiknya segera ditanam pohon beringin yang memang khas asli Indonesia. Pohon beringin itu memberi kesan ngayomi, karena pohonnya berkarakter runggut. “Daunnya blader dan akarnya kemana-mana,tulis ahli hukum bidang pertanian dan pertanahan ini.

Ia menolak keras ditanami pohon Ki Hujan, karena rumput di bawahnya akan mati. “Belum lagi kalau duduk di bawahnya, maka pantat akan jadi pliket ora karuan,” sambungnya lagi.

Pohon Ki Hujan sangat cocok ditanam di garis sepadan tembok seminari yang langsung berbatasan dengan Kali Manggis, persis di depan kompleks seminari. Begitulah pendapat Yan Delima, alumnus seminari juga.

Kenangan terakhir dengan latar belakang pohon palem raja di sepanjang lorong masuk Seminari Mertoyudan, ketika berlangsung Reuni Akbar Lintas Angkatan di bulan Juni 2016 lalu. (Courtesy of Sarwoto)

Kenangan lama

Sejak 30 tahun silam dan barangkali lebih awal dari itu, kompleks Seminari Mertoyudan memang asri. Termasuk halaman kampus bagian depan dimana ada 1 lapangan basket, 2 lapangan voli, dan hamparan tanah luas yang asri karena di sana-sini banyak tumbuh pepohonan. Di jalan masuk ke komplek, jalinan pohon palem raja menjadi pemandangan sangat khas di Seminari Mertoyudan.

Tahun 1978-an, ketika penulis menjadi seminaris bersama 62 teman seangkatan, kawasan halaman depan dengan ‘ikon’ pepohonan palem raja ini masih menyisakan alunan irama musik alami berupa kicauan burung-burung manyar. Pada tahun itu, burung-burung manyar itu masih suka membuat sarangnya dengan formasi topi terbalik; mirip seperti bentuk kuluk–topi Petruk.

Tahun-tahun berikutnya, pemandangan langka itu sudah tidak ada lagi. Terutama ketika mulai hari Kamis tanggal 21 Juli 2016 ini dan besok: Semua pohon palem raja ini sudah akan rata dengan tanah, karena telah ditebang sampai pokoknya.  Maka jangankan bisa melihat burung-burung manyar dengan sarang topi Petruk-nya itu. Bahkan, ikon visual Seminari Mertoyudan itu pun kini sudah sirna menenggelamkan kenangan indah selama 50 tahun terakhir ini.

Semoga, dalam waktu dekat pohon damar atau pohon dengan karakter menjulang tinggi ke atas segera tumbuh mengisi lorong Seminari Mertoyudan yang kini “kosong” karena ketiadaan pohon palem raja tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here