Nikmatnya Tidur di Depan Kamar Mandi MP

0
1050

Jumlah murid MP tahun 1977 hampir 103 orang, setelah para murid Medan Pratama atau MP “upacara singkat” dan olah raga dengan berlari kelilling lapangan sepak bola tida kali dilanjutkan dengan gerak badan singkat. Ketika Sang Komandan mengatakan :”Bar jlan”, semua berpacu menuju kamar mandi untuk mandi. Bagi mereka yang santai-santai, dengan sabar sambil membawa handuk dan sabun menunggu di depan kamar mandi sambil jongkok bersandar pada tembok samping pintu kamar mandi.

Tidak hanya saya, tapi juga beberapa teman pernah mengalami, saking sabarnya menunggu, makin lama rasa kantuk makin menyerang. Akhirnya, laaap blas tak sadarkan diri alias tidur pulas. Baru terbangun ketika terdengar ramaia-ramai, teman-teman mau beol di kamar WC setelah sarapan pagi. Gragapan dan kaget, penuh rasa malu masuk kamar mandi lalu cuci muka. Hilang sudah kesempatan untuk sarapan.

Romo Pamong kegebyur air

Adalah aku, adalah dia adalah kita. Entah siapa yang memulai, saat mandi di sore hari, tiba-tiba ciduk lenyap di depan mata, padahal sedang asyik sabunan. Teriak-teriak tidak digubris, ternyata tiba-tiba ada kepala yang nongol di bak kamar mandi. Kepalanya Yunus. Daripada tidak dapat mandi, sekalian njegur di bak kamar mandi, eee ternyata Yunus juga mencari ciduk yang diambil oleh Bambang Sukoco. Akibatnya ramai-ramai sirat-siratan. Kayak perang teluk. “Hai…diam jangan ramai-ramai” teriak sebuah suara. “Saya romo pamong”, Yang dari dalam kamar mandi tak kalah kerasnya berteriak:”Mbelll ngapusi”, lalu serangan gebyur-gebyuran berlanjut, dan Fr Supomo klebus kegebyur. Siapa yang menjadi pelaku harap lapor bidel umum.

Takut suster klesot kencing di tempat tidur

Tanpa mengurangi rasa hormat, ditengah malam yang sunyi tempat tidur seseorang yang tidak perlu disebut namanya, tiba-tiba terdengar suara:”cuurrr kricik-kricik”, rupanya ada air mengalir dari tempat tidur seseorang. Selidik punya selidik, ternyata yang bersangkutan sungguh terganggu dengan cerita Suster Klesot yang bertempat tinggal di pojok kamar mandi. Akibatnya, pelaku peristiwa itu tidak berani ke kamar mandi. Akibatnya lepas bebas, melepas cuuur kricik-kricik. “Luweeh weh..weh”

Windoro menyimpan ayam goreng sampai busuk (MM)

Demi amanya lawuh atau oleh-oleh dari orang tua tercinta, ada berbagai tehnik untuk pengamanan. Ada yang dibungkus plastic dimasukkan ke dalam lemari. Sayangnya sering ketahuan romo pamong atau teman-teman. Maka seseorang yang mendapatkan oleh-oleh ayam goreng merasa agak bingung dimana harta enak nan berharga itu akan diamankan. Rupanya SUBYEK tidak kurang akal, karena jaman itu baru musim membeli sepatu tentara, maka disitulah ayam goring akan diamankan. Tentu saja SUBYEK berpikir nanti atau besauk pagi akan pesta pora dengan lauk ayam goring. Mungkin kesempatan tidak ada, atau terlalu sibuk, atau daya ingat yang agak kurang, ternyata alam yang mengingatkan. Beberapa hari sesudah itu, ada bau yang sangat mengganggu. Bau busuk.

Karena itu diadakan opera magna, ternyata ditemukanlah sisa-sisa ayam goring yang sudah berbau di sepatu bootnya Windoro.

Kepekaan atau kepekok an (MU)

Peristiwa ini terjadi di ruang rekreasi MU yang disebut  Kahyangan, waktu itu sedang ramai-ramainya berita tentang perang Iran dan Irak. Setiap kali Koran diambil oleh bidel Rekreasi, langsung rebutan untuk melahab semua tulisan di Kompas waktu itu.

Saking asyiknya membaca, tanpa sadar kaki seseorang ditumpangkan di meja dengan maksud agar semakin bisa menikmati bacaan dengan rileks. Tanpa diduga dan dinyana, romo Warnobinharjo sebagai pamong MU datang, dan bertanya kepada SUBYEK yang mengenakan topi “Waah asyik benar membacanya. Kok topimu bagus”. Si pembaca  yang bertopi dengan santai berkata:”Ya romo. Ini topi pinjaman” sambil meneruskan membaca, tanpa menurunkan kakinya dari atas meja. Teman-temannya menegur dia:”Tadi romo Warno maksudnya mau menegur kamu kok membaca sambil kakinya ditumpangkan di atas meja:”. “Gaaak, wong dia Tanya topi pada saya kok”

Dhasar …ramane gak berani terus terang, seminaris e kurang tanggap sasmito. Podho wae

Tiyuk:”Jangan khawatir mas masih banyak”

Aneh ya, wong Cuma daun kates dibumboni biasa kok waktu itu rasane enak banget dan tokoh kita adalah Tiyuk. Entah nama aslinya siapa. Demi sepincuk lotek sampai-sampai kaki kena kawat berduri. “Tenaang mas, masih banyak” itulah kata-kata dari Tiyuk saat para semianris antri untuk menikmati lotek Tiyuk

Akibat Tekanan maksimum (MP)

Saya tidak akan lupa waktu itu di KPP 3. Romo Riawinarto sedang mengajar bahasa Latin. “Agricola terram arat. Agricola ditasrifkan menjadi Agricola, agricolae-agricola-agricolam…….” Semua siswa selalu siap punggung didhug oleh romo Ria bila ada yang salah dalam tasrif. Adalah siswa (Nek gak kliru Bambang Sukoco) yang tiba-tiba maju ke depan dan pamitan dengan romo Ria untuk minta ijin keluar karena KEBELET KENTUT. Setelah dapat ijin keluar, berjalanlah ia ke pintu sambil membuka pintu ternyata BOM SUDAH MELEDAK  dengan suara “Broot” karena ada tekanan maksimum. Romo Rio marah. Yang bersangkutan mau mbalik duduk tapi  tidak boleh masuk kelas. Tapi sang tertuduh memohon-mohon dan akhirnya nekat duduk. Sedang romo Ria bertahan untuk tidak memperbolehkan Subyek duduk ditempatnya. Subyek hanya berdiri didepan kelas sementara pelajaran Tasrif-mentasrif berjalan terus.

Panik akhirnya bingung. Bingung akhirnya salah. Salah akhirnya disidang romo Pamong

Malam Minggu adalah malam yang ditunggu-tunggu karena rekreasi panjang dan boleh nonton TV sampai jam 21.30. Kemudian dilanjutkan doa malam. Jam 22.00 sudah harus masuk Dormit untuk tidur. Silentium Magnum adalah dogmanya. Namun ada dua orang oknum yang setelah megnambil air di dapur dengan botol mendadakan dialog. Si A bertanya:”Ini alat opo?” Si P menjawab:”Ini diesel parut kelapa”. “Ooo. Terus menghidupkannya gimana” Tanya si A. “Begini, skaklar diputer seperempat putaran ke kanan, nanti akan hidup” jawab si P. “Tak cobane ya” kata si A sambil medenkati skaklar diesel parut dan tangannya mulai menggapai skaklar. Skaklar diputer seperempat seperti instruksi si A, ternyata diesel mulai berputar semakin lama semakin keras. Si A begitu bingung dan diputar lagi ke kanan, ternyata diesel semakin cepat berputar dan suara semakin keras. Ketika si A sedang panic, si P sudah melarikan diri. Kebetulan sang Pamong Umum yakni romo Pujosumarto mengawasi di depan Valet dengan geram sambil bergumam:”Bocah ki apike tak gantung po yo, yah gini kok nguripke diesel”.

Romo Pujo yang ketawa dalam hati saat melihat paniknya si A, terpaksa membentak si A:”Hee. Ayo dimatikan. Matikan. Kowe njaluk tak kapakke to Gusss.”. Bukan saya kok romo, yang ngajari P” protes A. :”Mana si A, Golekki” si A akhirnya berhasil menemukan si P di tempat persembunyiannya untuk mematikan diesel. Ternyata pak Dirun petugas jaga malam yang setia itu telah datang di lokasi dan mematikan disel yang mulai meraung-raung. Nasib tak bisa dipungkiri, malam itu juga terjadi siding agung antara A, P dan Romo Pujosumarto.

Penyalahgunaan wewenang di MU

Peristiwa ini terjadi saat angkatan 77 telah menjadi anak sulung di Seminari Mertoyudan alias MU. Secara diam-diam diantar siswa MU ada kesepakatan bahwa saat pelajaran di Ruang Gabungan dekat kamar romo Warno, sering mendengar dengan jelas mobil yang mengiklankan di bioskop Magelang, yakni Magelang Teather, Krisna Teather dan Wijaya Teather. Saya tahu bahwa beberapa orang sering nonton Film. Bintang Film yang paling ngetop jaman itu adalah Rano Karno, Yessy Gusman dalam judul Gita Cinta dari SMA. Yang Barat adalah Rooger Moore dalam Never Say Never Again, Octousy, The Ten Commandment dll.

Keinginan yang kuat biasanya menimbulkan ide-ide cemerlang. Sebagai contoh, siswa-siswa MU yang hoby nonton filmpun menemukan pelbagai strategy. Pertama bagi yang bisa mbolos meski harus nyabrang Kali Manggis yang kotor dan berjalan kaki ke Magelang bisa menikmati film yang diinginkan dan bakso. Namun yang kekurangan dana untuk nonton Film, ngajak iuran. Yang nonton perwakilan dengan konsekwensi  setelah menonton harus bercerita di depan kelas supaya siswa yang lain bisa ikut “menikmati”. Saya lupa entah dengan siapa, pernah mendapat giliran untuk nonton film dengan dana “bantingan” dan dengan pelbagai cara bisa meloloskan diri dari kawat berduri di sebelah timur MU. Namun karena tidak ada uang transport dan berjalan sampai Krisna Theater sampai  haus dan lapar. Terpaksalah, uang untuk nonton film kami gunakan untuk beli bakso dan es buah. Suegerrr. Lalu kami atur strategy, bagaimana nanti kalau harus “talk show” di depan kelas. Kami hanya membaca iklan yang ditempelkan di papan iklan bioskop Krisna dan bertanya kepada para penonton yang ikutan mbakso. Main curang tetapi aman.

Di depan kelas, kami harus merekayasa agar teman sekelas yakin bahwa kami benar-benar nonton film. Padahal hanya nonton gedung film sambil menikmati bakso dan es buah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here