RIP Hermanus Danu Susilo, Alumnus Seminari Mertoyudan Tahun Masuk 1978

0
513

SEJAK lulus Seminari Mertoyudan tahun 1981/82 dan mulai kenal ketika mulai masuk asrama di bulan Januari 1978,  praktis mayoritas alumni angkatan KPP tahun masuk 1978 dan angkatan KPA tahun 1981/82  tidak pernah sempat berjumpa lagi dengan Hermanus Danu Susilo, seminaris asal dri Paroki Nanggulan, DIY.  Barulah ketika digelar acara  reuni besar angkatan KPP Seminari tahun 1978 dan KPA tahun 1981/82  di Batu – Malang bulan Juni 2016 lalu,  kami  akhirnya berhasil bertemu teman lama bernama Hermanus Danu Susilo. Ini menjadi pertemuan pertama dan terakhir bagi banyak orang dengan Danu, setelah 34 tahun lamanya  berpisah dan tidak pernah saling bertemu lagi  usai lulus seminari.

Pesta perak perkawinan

Masih sama seperti sepanjang tahun 1978-1981/82, Hermanus  Danu Susilo  tetaplah seorang pribadi yang tenang dan tidak banyak omong.  Pada acara reuni angkatan di Batu – Malang itulah, Danu lalu didaulat oleh teman-teman angkatannya untuk sedikit sharingsetelah mengarungi bahtera hidup perkawinan selama 25 tahun dengan Enny.  Ya, di acara reuni di sebuah rumah keluarga katolik itulah para imam alumni Mertoyudan 78 juga berkesempatan menyatakan syukur kepada Tuhan bahwa pada saat itu pasangan suami-istri Hermanus Danu Susilo dan Enny telah genap merayakan Pesta Perak 25 Tahun Perkawinan mereka dan kini dianugerahi tiga anak –dua puteri dan satu putera.

Para imam sesama alumni Seminari Mertoyudan angkatan tahun 1978  yang hadir pada acara reuni ini  adalah Romo Matheus “Michael” Agung Christiputro alias Romo Ciput O.Carmel (Malang), Romo Yohanes Purwanto MSC (Paroki BHK Kemakmuran Jakarta), Romo Leo Purwanto SCJ (Palembang), Romo Atas Wahyudi Pr (Paroki Weleri, Jateng), Romo Ketut Switra OCSO (Tilburg, Belanda), Romo Ignatius Swasono SJ (Pastor Mahasiswa Unit Selatan di Margonda, Depok).  Sedangkan dari teman KPA tahun 1981/82 adalah Romo Emmanuel Pranowo Datu Martasudjita Pr (dosen teologi USD Yogyakarta dan formator untuk para frater diosesan KAS di Seminari Tinggi Kentungan). Beberapa imam lain dan mantan iman tidak sempat datang di acara ini.

Dengan perayaan misa sederhana, mereka melambungkan syukur atas reuni besar pertama di antara sesama alumni KPP Merto 78 dan alumni KPA Merto 1981/82  sekaligus merayakan Pesta Perak HUT Perkawinan 25 tahun Danu Susilo dengan Enny.

danu-susilo-keluarga
Almarhum Hermanus Danu Susilo karena kelelahan akhirnya naik kereta listrik saat berwisata bersama rombongan peserta Reuni Akbar Alumni Merto 1978 di Batu – Malang, Juni 2016. (Ist)

Pidato di Gereja Gembala Baik Batu –Malang

Esok harinya, jelang perpisahan, kami semua menghadiri perayaan ekaristi mingguan di Gereja Gembala Baik di Batu dan sekali lagi alm. Danu Susilo didaulat oleh ‘tuan rumah’ Romo Ciput O.Carm untuk sedikit sharing mengenai pengalamannya membina rumah tangga selama 25 tahun.

Seperti biasa, nada  bicara Danu sungguh amat-amat datar, meski esensi kisah cerita yang dia omongkan sangat mendalam karena itu sungguh keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Salah satu pokok penting yang dia ungkapkan adalah kesabaran isterinya menemani dia pada saat-saat sulit dan itulah yang membuat Danu merasa hepi bersama dia.

Penampilan Danu di depan altar di Gereja Gembala Baik juga sangat menyentuh hati. Semula ia tak berminat tampil. Namun, karena sedikit diojok-ojoki oleh dua imam yakni Romo Ciput O.Carm dan Romo L. Purwanto SCJ, akhirnya Danu pun tampil di depan altar.

Kata-kata yang terungkap sungguh merupakan sejarah kejujurannya mengarungi bahtera rumah tangga. Ia mau tampil sekadar untuk memberi kesaksian iman kepada segenap umat katolik yang hadir pada misa itu tentang indahnya merenda hidup bahtera perkawinan secara katolik. Itu saja intinya dan justru itu yang membuat banyak teman angkatannya merasa terharu, bangga, sekaligus ‘sedih’ karena melihat wajah Danu saat itu sudah semakin pucat.

Entah terbersit pikiran macam apa, tapi kami kok merasa jangan-jangan ini merupakan perjumpaan pertama –setelah 34 tahun tidak saling jumpa—dan menjadi pertemuan muka terakhir kami dengan Hermanus Danu Susilo. Saat menyampaikan ‘pidato’ di depan altar karena didaulat Romo Ciput O.Carm dan diojok-ojoki sama Romo L. Purwanto SCJ –mantan misionaris di Madagaskar, Afrika—Danu tampil berkaca-kaca. Saya yang duduk di belakang H. Juhartono malah sempat sesenggukan mendengar isi sharing Danu itu.

danu-susilo-sorong
Hermanus Danu Susilo (1962-2016)

Teman-teman Merto angkatan 1978 yang tidak pernah bertemu muka dengan Danu setelah 34 tahun berpisah pasti bisa merasakan bahwa memang ada ‘sesuatu’ yang melintas di  benak kami masing-masing bahwa siapa tahu umur Danu mungkin tidak panjang lagi.

Wajah sakit

Saat di acara reuni di rumah keluarga katolik di Batu itu, Danu secara fisik memang sungguh menampakkan wajah yang lemah karena badannya sudah mulai digerogoti penyakit yang telah mulai menderanya sejak dua tahun terakhir karena komplikasi gula, lever dan paru-paru. Seperti biasa, Danu seperti tidak mau kalah dengan ‘penyakit’ yang bisa membuatnya cepat lelah. Ia berusaha tampil gagah karena menyapa hangat teman-temannya yang juga tidak pernah dia jumpai sejak tahun 1982.

Kala duduk di belakang, saat ada teman lain tampil ‘berpidato’, tiba-tiba saja punggung saya ditepuk oleh Danu — tanda ingin menyapa hangat saya melalui bahasa tubuhnya.

Beberapa bulan sebelumnya kami berdua memang sempat bercanda ria melalui panggung virtual. Pertengahan Desember 2015, saat saya di Seoul bertemu dengan para pejabat Seoul Metropolitan Government, Danu dengan sangat semangat memotivasi saya agar sempat mengunjungi pusat-pusat keindahan di Negeri Ginseng ini. Hal sama dia ulangi lagi ketika kami berlima kembali lagi mengunjungi Seoul di pertengahan Juni 2016 lalu –hanya beberapa hari setelah pertemuan pertama dan terakhir dengan alm. Danu Susilo.

Korea Selatan

Mengapa Korea Selatan sampai mendapatkan tempat khusus di hati Danu?

Sejak lulus Seminari Mertoyudan tahun 1981/82 karena perpanjangan tahun ajaran, Danu lalu melanjutkan studi di jalur “awam” sementara lainnya lanjut meneruskan ke jalur imamat. Danu memilih studi biologi di UGM dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional dan ditempatkan di Pasuruhan selama belasan tahun.

Sepanjang bekerja di Jatim inilah, ia berkali-kali datang mengunjungi Korea untuk program belajar jangka pendek. Karena itu, ketika ada teman mengunjungi Negeri Ginseng, lazimnya anak-anak Seminari waktu itu, maka dia dengan nada canda bergurau agar jangan sampai lupa melihat puella pulchra (gadis rupawan) di sana. Jangan mau melihat agricola terram arat … petani membajak sawah.

danu-susilo-2
Danu dan Iput

Perjumpaan singkat dengan Danu di Batu memang hanya berlangsung dua malam tiga hari saja.Namun itu sungguh membekas dalam-dalam di hati para alumni teman-teman seangkatannya.  Di penghujung acara jelang perpisahan, ada sesuatu yang tidak pernah kami duga sama sekali.

Tiba-tiba saja Danu dan istrinya datang dari rumah membawa ‘persembahan’ berupa satu kotak berisi roti dan beberapa makanan lainnya. Semua teman alumni tahun 1978 dan alumni KPA tahun 1981/82 menerima bingkisan tanda kasih ini dengan perasaan sukacita namun sekaligus mbatin: Ada apakah dengan Danu Susilo?

Karena alasan kesehatan, Danu tidak menginap bersama-sama dengan kami. Ia pulang ke rumahnya di kota Malang agar bisa beristirahat dengan lebih memadai dan nyaman.

Apakah waktu itu Danu sudah mulai  merasakan kalau  ‘waktunya sudah dekat’?

Itu suara kata hati saya, namun tak berani saya ungkapkan kepada teman-teman. Yang pasti, semua orang mengaku  tersentuh haru, ketika dia mengucapkan kata-kata berikut di ujung waktu perpisahan dengan kami di Batu: “(Barang tanda kasih ini) …semoga bermanfaat untuk semua saudaraku sebagai bekal di jalan menuju rumah.”

reuni-merto-78-1
Reuni akbar temu angkatan alumni Seminari Mertoyudan tahun 1978 di Batu – Malang, Juni 2016. (Ist)

Dua kali Sakramen Perminyakan Terakhir

Dua tahun lalu, Romo Ciput pernah memberi  Sakramen Perminyakan Suci kepada Danu yang saat itu juga tengah dirawat di RS RKZ Malang karena lambungnya sakit parah. Waktu itu, kata Ciput dalam sebuah pembicaraan antar angkatan, rasanya harapan akan bisa hidup lebih panjang lagi tinggal sedikit karena kondisi fisik Danu saat itu  terus nge-drop.  Romo Ciput tak sampai hati memfoto wajah Danu dan kemudian membagikannya ke sesama alumni saking trenyuh-nya.

Kesabaran dan ketekunan Enny –istrinya–  itulah yang kiranya mampu membuat hidup Danu bisa “diperpanjang” dua tahun kemudian, usai penerimaan sakramen perminyakan terakhir yang pertama  itu.

Di bulan-bulan sepanjang tahun 2016 ini, Danu sering kali punya permintaan aneh-aneh. Misalnya, tiba-tiba minta anaknya agar  membawa dia keliling kota Malang hingga sampai Batu pada jam-jam menjelang pergantian waktu pada malam hari atau bahkan dini hari hanya untuk sekadar melihat “udara luaran sana”.

Sebulan lalu, tiba-tiba saja, Romo Ciput O.Carm yang kini berpastoral di Gereja Katolik Batu sambil mengajar mata kuliah teologi di STFT Widyasasana Malang memberi kabar sedih: “Danu ambruk dan dirawat di RS RKZ”.

Beberapa kali, Romo Ciput memposting kabar bahwa kondisi Danu kian memburuk dalam beberapa hari terakhir, setelah mengalami pendarahan dan muntah darah hingga memerlukan transfusi.

Minggu malam tanggal 6 November 2016, Danu diberitakan di jalur komunikasi angkatan mulai memasuki masa kritis. Romo Ciput segera meluncur dari ‘atas’ Batu  ke ‘bawah’ untuk menengok Danu dan kemudian memberikan Sakramen Perminyakan Terakhir kedua kalinya.

Ia masih sadar ketika tangan Tuhan menunjukkan kerahiman-Nya melalui tangan imam (Romo Ciput O.Carm)  yang tengah mengurapi di beberapa titik tubuh manusia dimana awal dosa seringkali datang menggoda manusia: dahi, telinga, mata, hidup, bibir mulut, tangan, kaki, dan beberapa bagian lainnya.

Kami tentu saja  senang mendengar teman-teman alumni Merto dari angkatan lebih muda segera datang meluncur ke RKZ menunjukkan kepeduliannya. Mungkin saja mereka tidak kenal baik, namun semangat sama yang pernah berkobar di alma mater  –Seminari Menengah St. Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang— seakan mampu menyatukan ikatan batin yang putus oleh karena rentang usia dan kurun waktu yang berbeda.

Usai menerima Sakramen Perminyakan Suci yang kedua kalinya sejak 2014, tensi Danu semakin anjlog dan selang beberapa lama kemudian Danu menjadi tidak sadarkan diri.

Beberapa menit kemudian, tepat pukul 21.26 WIB , Tuhan ternyata sungguh datang ingin menjemput teman kami  Hermanus Danu Susilo untuk kembali ke pangkuan-Nya.

Vita functi …berakhirlah sudah hidup yang fana ini.

Requiescat in pace amicus carrisimus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here