Indahnya Membaca

0
11392

Sejak kecil, sejak saya bisa membaca, saya memang hobi membaca. Saya membaca apa saja. Tak hanya buku komik,  majalah, bahkan sobekan-sobekan koran bungkus tempe atau bungkus kacang, meski tak lengkap pun kubaca. Saya hobi membaca buku-buku rohani, kisah bergambar para santo-santa dan Babad Suci yang di kemudian hari baru saya tahu ternyata itu kisah-kisah dari Perjanjian Lama.

Maka, begitu saya diterima di Seminari Menengah Mertoyudan, saya seperti masuk surga dunia, membaca penuh bunga-bunga, buku aneka warna-warni. Begitu banyak buku tersedia, berlimpah ruah di perpustakaan. Wow…. senikmat minum sprite yang botolnya keringatan, makin nikmat! Kesempatan membaca saat di Mertoyudan sungguh luar biasa istimewa! Berlimpah ruah berkah kualami dalam hal membaca, oh, begitu indahnya.

Di mana letak keindahan membaca? Pertama, membaca membuatku laksana masuk KE dalam surga pengetahuan bahkan pengalaman yang mengasyikkan ketika saya membaca buku-buku rohani khususnya kisah para santo-santa. Kedua, membaca membuatku kian merasa semakin bodoh sebab ternyata banyak hal yang kutemukan sebagai hal yang baru yang sebelumnya tak kuketahui. Di satu sisi, saya merasa kian bodoh. Di sisi lain, saya merasa diperkaya melalui membaca. Kian merasa bodoh tapi juga kian diperpintar.

Ketiga, membaca bagiku begitu indah sebab kegemaran dan kebahagiaan membaca sangat erat dengan jalan menuju imamat. Alangkah celakanya bila seorang imam tak hobi membaca, sebab ia akan tertinggal jauh dari umat yang dewasa ini sesungguhnya jauh lebih cerdas dan tahu tentang banyak hal dibandingkan dengan kita para imam. Kegemaran membaca membuat seorang (calon) imam diperkaya untuk mempersiapkan karya pelayanan dan pastoralnya.

Keempat, saat ini saya memetik buah indahnya gemar membaca, yakni bahwa saya lebih produktif dalam karya. Syukur pada Allah, dari tahun 1999 hingga 2016 ini lebih dari 70 buku sudah kutulis dan diterbitkan oleh berbagai penerbit. Membaca berbuah menulis. Itu pengalaman nyata. Indah!

Kelima, membaca bagiku menjadi sebuah disiplin Kristiani, bagian dari penghayatan spiritualitas Kristiani. Artinya, membaca kian mempertegas iman saya. Itulah buah dari pengalaman disiplin melakukan bacaan rohani saat di Seminari Mertoyudan.

Akhirnya, membaca bagiku merupakn sebuah perutusan! Tole et lege! Sharing St. Agustinus dari Hippo. Ambillah dan bacalah! Terutama, membaca Sabda Tuhan yang termuat dalam Kitab Suci. Membaca memberi asupan rohani bagi jiwa kita. Membaca menjadi jalan untuk peka membaca dan menangkap tanda-tanda zaman!

Jadi, untuk para Seminaris! Selagi di Seminari dengan berlimpah ruahnya buku di perpustakaan, manfaatkanlah, jangan takut untuk membaca dan membaca!

Terima kasih pada Seminariku yang menghidangkan berlimpah kelezatan buku-buku untuk kubaca di saat aku masih muda-remaja menuju dewasa!!

Girlan Ungaran, 3/10/3016
Aloys Budi Purnomo Pr, angkatan KPP 1984, lulus normal 1988. Iman Diosesan Keuskupan Agung Semarang, Pemred Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here