Gereja yang Hadir , Oleh-Oleh Perjumpaan dengan Uskup Ketapang Mgr. Riana Prapdi

0
246
Para alumni saat meet and greet bersama Mgr. Riana Prapdi/(IASM/FX Dono Sunardi)

SENANTIASA ada kesegaran, kehangatan, dan bertambahnya wawasan dalam perjumpaan dengan eks-Mertois. Itu pulalah yang bisa dirasakan dalam perjumpaan dengan Mgr. Riana Prapdi, Uskup Ketapang, yang juga merupakan seminaris Seminari Mertoyudan tahun 1983 dengan komunitas eks-Mertois Jatim. Bertempat di sekolah Kolese St. Yusuf (Kosayu), yang juga dikenal dengan nama Hwa-Ind (Tionghoa – Indonesia), pertemuan di suasana malam di Malang yang cukup dingin setelah diguyur hujan deras pada Senin, 5 Maret 2018 itu terasa hangat dan nyaman.

Mgr. Riana Prapdi mengawali sharing beliau sebagai Uskup Ketapang sejak 2012 dengan sebuah anekdot mengapa kebanyakan orang Dayak di Ketapang yang menjadi umat gembalaannya memilih Kekatolikan sebagai agama mereka. Ada tiga hal yang mendorong mereka memilih agama Katolik: (1) boleh makan daging babi; (2) boleh minum tuak; dan (3) boleh tetap menjalankan adat-istiadat nenek moyang mereka. Ketiga alasan ini terwadahi dalam ajaran Gereja Katolik, dan tidak terakomodasi, misalnya, dalam agama lslam dan Protestan.

Namun demikian, keimanan Katolik di antara masyarakat Dayak di Ketapang masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut ada yang berasal dari “luar”, yaitu kurangnya sumber daya manusia yang bisa diandalkan untuk dapat membina iman mereka. Di Keuskupan Ketapang, yang jumlah umatnya sekitar 70.000 jiwa, imam dan guru katekisnya sangat terbatas sehingga tidak jarang, misalnya, ekaristi dan ibadat lainnya diadakan dalam interval berbulan. Ada gurauan bahwa sehari setelah perayaan Natal, umat bisa langsung merayakan Rabu Abu. Ini dikarenakan pelayanan ekaristi di stasi-stasi yang pelosok tidak bisa diberikan secara rutin setiap minggu.

 

Pertemuan dengan Mgr Riana Prapdi. (IASM/Bambang Kus)

Di sisi lain, tantangan juga muncul dari karakter umat sendiri. Sebagian besar umat Katolik Keuskupan Ketapang merupakan petani peladang yang berpindah-pindah. Adat yang sudah turun-temurun ini membentuk karakter umat yang mudah mencari mana yang lebih gampang dan sesuai dengan kepentingan mereka. Ketika sebidang lahan sudah tidak subur dan memberi kesulitan bagi mereka, mereka akan beralih ke bidang yang lain. Iman pun, hingga kadar tertentu, dihayati secara demikian sehingga bukan hal yang aneh bahwa ada umat yang dengan enaknya pindah keyakinan karena diiming-imingi oleh kemudahan dan daya tarik duniawi lainnya.

Isu lain yang secara khusus disorot oleh Mgr. Riana Prapdi dalam sharing beliau adalah terkait dengan “bom waktu” lingkungan hidup. Pembabatan hutan, yang tidak jarang disertai konflik agraria dengan masyarakat adat, menyimpan ketuban masalah yang sewaktu-waktu bisa meledak. Pemodal dengan dibekingi oleh aparat, baik sipil maupun militer, terus mengambil tanah hingga beratus ribu hektar untuk ditanami kelapa sawit. Para pejabat di wilayah Keuskupan Ketapang, yang notabene adalah umat Katolik pun, tidak terlalu banyak bedanya dengan aparat di wilayah lain di negeri ini, yang tidak kebal terhadap kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing, lengkap dengan kasak-kusuknya dengan pemilik modal dan pengusaha. Semangat iman Kekatolikan belum benar-benar menggerakan pilihan mereka.

Penulis bersama Mgr Riana Prapdi / (IASM/FX Dono Sunardi)
Romo Bas Sudibyo SJ (kanan) – (IASM/Bambang Kus)

Satu keprihatinan besar lain, di luar kekhawatiran akan pecahnya konflik agraria karena kepemilikan tanah yang tumpang-tindih, adalah hilang dan lunturnya kearifan lokal terkait bagaimana masyarakat mengelola dan memanfaatkan lahan. Apabila di waktu sebelumnya, tanah yang ada, yang umumnya adalah tanah gambut yang bersifat asam, dikelola dengan sistem ladang berpindah, memungkinkan tanah kembali menyerap unsur hara saat ditinggalkan sebelum beberapa tahun kemudian kembali digarap, kini tanah dieksploitasi terus-menerus oleh kelapa sawit. Masyarakat setempat juga terancam kelaparan dan kehilangan kemandirian pangan mereka. Ladang mereka, yang sudah beralih menjadi perkebunan kelapa sawit, tidak lagi mereka tanami dengan tanaman pangan seperti padi. Akibatnya, mereka harus membeli beras dari luar. Dengan demikian, mereka tidak lagi mandiri bahkan dari urusan logistik yang paling dasar.

Di luar berbagai masalah dan keprihatinan ini, bapak Uskup juga menyiratkan optimisme beliau. Pembangunan infrastruktur yang digencarkan oleh pemerintah saat ini, meski belum optimal dalam menyentuh dan memperbaiki taraf kehidupan umat di Ketapang, mulai sedikit demi sedikit terasakan. Ada pula berbagai kerjasama dengan kampus, semisal Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang membantu keuskupan dalam mendata umat Katolik, dan diharapkan di masa yang akan datang bisa mengolah aspek lain yang lebih substansial.

Acara bincang-bincang ini ditutup, seperti biasanya, dengan foto bersama dalam beragam aksinya. Setelah diskusi yang lumayan berat, berfoto dengan acungan jempol ataupun pose ndaplang adalah seperti pose optimis sekaligus sumarah ing kersaning Allah. Sungguh, perbincangan singkat ini meneguhkan kami di dalam jalan hidup kami masing-masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here