Refleksi Atas Canis Choir

0
230
Penampilan di Gereja Katedral Jakarta. (Ist)

Romo dan para sahabat IASM, ini permenunganku dari diskusi dan refleksi seminaris untuk Canis Choir

1. Poin pertama. Om Jay, bagi saya, adalah pribadi yang sungguh luar biasa berdasarkan refleksi yang saya baca di grup. Why? Gila, orang ini mampu mengeset standar behaviour yang harus dicapai para seminaris supaya tampil baik, dan untuk itu semua ada kesepakatan bersama bahwa standar itu wajib dilakukan.

Dengan standar itu ia menyampaikan pesan bahwa kamu (seminaris) jika mau dihargai ya harus belajar menghargai, jika mau dicintai yah harus belajar mencintai (kebutuhan dasar manusia) mulai dari masa persiapan sampai pada penampilan, bahkan seterusnya. Anak muda pengen eksis, pengen dihargai, ingin dicintai banyak orang lewat bakatnya tapi terkadang melupakan “realitas” bahwa mereka harus do the same.

Jay mengajak mereka melihat dan memahami realitas ini bahwa utk keluar dari superego mereka, mereka harus bertanggungjawab. How? Melakukan sesuatu bukan untuk kebutuhan mereka saja tetapi juga utk temannya, timnya, seminari, keluarga, dll; tidak menyangkal kemampuan temannya yaitu dengan menghargai (respect); sadar bahwa apa yang satu pribadi lakukan pasti berdampak pada tim.

Jay sebagai pendamping juga tidak menganut istilah “kasihan” justru dia tega untuk menegaskan apa yang “right” apa yang “wrong” dlm berproses mewujudkan standard behavior yang disepakati dari awal dan wajib diikuti seminaris, bahkan mungkin dengan hukuman, amarah, siksaan (lihat refleksi: “menyiksa kami”).

REALITAS, RESPONSIBILITY, RIGHT/WRONG menjadi kekuatan dalam proses ini. Dan yang paling penting adalah bagaimana Om Jay menjadi seorang pribadi yang sungguh “Cura Personalis” (meminjam istilah Ignatius Loyola), ia tidak hanya bertutur tetapi terlibat secara utuh (emosional dan fisik), dan sungguh seminaris melihat dan mengalami hal tersebut. Plus Om Jay juga menunjukkan bahwa dia juga mengatakan lewat kata dan tindakan bahwa standard behavior itu penting; menjadi teladan bagi para seminaris. He is badly involved in their lives.

Bagi saya, renungan di atas juga menjadi evaluasi dan refleksi saya sebagai seorang bapak keluarga , guru di Loyola, sahabat bagi temanku, dll. Saya masih lemah dan terus belajar untuk memperbaiki diri “Magis” untuk menjadi seorang bapak, pendidik dan sahabat yang baik.

2. Poin kedua, Canis Choir sifatnya lebih eksklusif untuk mereka yg sudah punya modal menyanyi dan mau mengembangkan lebih bakat menyanyinya supaya bisa pentas di dalam maupun luar seminari. Jadi saya lebih suka untuk menyebut Cantus (kurikulum seminari) untuk semua seminaris seperti yang dikatakan romo rektor.

Cantus menurut saya hanya sarana, yang tujuannya (menurut saya), at least ketika mereka menjadi romo mereka bisa nyanyikan prefasi, dan ordinarium; tidak bisa menyanyi tetapi bisa jadi penikmat musik, jadi tahu kalo koor umat fals lalu memberi masukan; menjadi pribadi rendah hati dan bukan popstar di atas altar dengan bakat nyanyinya.
Yang utama adalah PENDAMPING.

Memang tidak ada yang sempurna, dan saya rasa Om Jay juga mengalami banyak hal untuk menjadi pribadi yang dibanggakan dan diidolakan oleh seminaris yang ikut Canis Choir.

Oleh karena itu, dibutukan pendampingan lebih dan teladan dari para Sahabat Jesus untuk me-Roh-kan Cura Personalis, tidak hanya untuk guru Cantus tetapi juga semua guru dan pendamping di Seminari, termasuk Romo, Frater, Guru, dan Karyawan, bahkan seminaris juga.

Salam dan doa saya. Maaf ini hanya sebagai permenungan, boleh setuju atau tidak. Setidaknya hal ini berguna bagi saya pribadi. Matur nuwun. Berkah Dalem

Beberapa refleksi yang muncul dari para seminaris dituliskan oleh Jay Wijayanto. Berikut nukilannya.

Proses ini membuka pintu hati kami, meminta kami untuk menaruh ketulushatian dalam proses yang singkat dan tidak mudah. (Adsel, tenor 2)

Sepanjang latihan ini pula, aku diajarkan satu hal yang sangat penting. Sebetulnya hal ini bukan termasuk dalam teknik dasar bernyanyi namun tentang attitude. Aku sendiri sadar banwa para seminaris belum bisa menjadi diri sendiri. Masih menjadi orang-orang yang fake. Kami diajarkan untuk menjadi pribadi yang wajar-wajar saja. Bagiku hal itu sulit. Akan tetapi itulah yang coba aku olah sepanjang persiapan konser ini. (Nicolas Deny, tenor 1)

Konser ini membuat aku menjadi lebih dekat dengan beberapa kakak kelas yang awalnya tidak dekat. Konser ini juga membentuk kami menjadi keluarga yang mempunyai satu tujuan yaitu bernyanyi demi kemuliaan Tuhan, untuk seminari, dan membentuk karakter yang baik. Pak Jay mengajarkan kami cara bersosialisasi yang tidak lebay atau over acting.

Aku juga mendapat banyak pengalaman seperti menginap di hotel untuk pertama kali nya, makan di refter hotel, naik bis ke luar kota, datang dan bernyanyi di Usmar Ismail, dll. Kemudian pengalaman bersosialisasi dengan banyak orang dan menghargai para penonton yang telah membayar tiket untuk mendukung konser kami. Pengalaman ini tak akan terlupakan bagiku karena ini adalah suatu hal berharga. Pelajaran untuk memiliki tanggung jawab terhadap semua hal yang kita lakukan atau katakan. (Egi, bass 2)

Mungkin apabila Om Jay tidak pernah menyiksa kami, kami tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah sadar akan kelemahan kami. Melalui konser ini kami betul – betul belajar untuk terjun kepada kenyataan, mulai dari belajar untuk menghormati orang, belajar berinteraksi dengan perempuan, belajar berinteraksi dengan mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda, belajar kalau siesta itu ternyata merupakan kemewahan, belajar untuk berlaku wajar, dan masih banyak lagi pelajaran yang kami dapat. Tetapi yang terutama aku belajar kalau dunia yang aku tempati sekarang memang lebih nyaman, walaupun dengan segala kekurangan. Aku bersyukur karena sudah disadarkan kalau ternyata banyak berkah yang aku terima selama di seminari. Selama ini aku kurang bersyukur dengan apa yang aku terima. (Dimas, tenor 2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here