Reuni KPP 79/KPA 82, Kepingan Hidup Terindah

0
337

Walau sudah seminggu reuni di Batu berlalu tapi kepingan indah masih sangat terasa. Kami reuni sejak hari sabtu 30 Juni  sampai Senin tanggal 2 Juli.  Suasana reuni kali ini sungguh berbeda. Minimal ada 5 hal.

Pertama: Peserta  yang hadir bergelombang. Ada yang hadir di hari pertama lalu malam itu pulang karena ada panggilan tugas yang tidak bisa dihindari seperti Rm Kadek setelah selesai tugas sebagai Provinsial SVD kembali bertugas dan kali ini di pelosok kalimantan Barat.

Ada pula yang pulang di hari kedua karena ada urusan keluarga seperti Puji, Rm Wartaya, Rm Tunjung, Priyatne bahkan Parmanta pamit menjelang tengah malam dan bermalam di bandara Juanda Surabaya karena subuh sudah harus terbang.
Ada pula yang hadir di hari kedua seperti Mumung bahkan ada yang hadir menjelang berakhirnya hari kedua seperti Agus Pacem. Praktis Agus Pacem hanya beberapa jam bersama kita. Ini semua terjadi di tengah kesibukan dan panggilan tugas teman teman  tetap mengusahakan hadir. Sebuah kerinduan yang melahirkan  usaha yang sangat luar biasa.

Kedua kami bersama sama mencari makna perjalanan hidup masa lalu.
Dengan melihat masa lalu, kita akan mengerti bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini merupakan bagian dari  momen momen  diri kita dengan orang lain sekaligus mengingat bahwa kita masih terus berkembang. Misalnya :
Ada kawan yang share tentang pergulatan hidup dalam mencapai kebahagiaan hidup. Di kemudian hari kawàn ini akan mencari peluang mengembangkan penitipan anak lalu ke depan penitipan janda ( dalam arti mempertemukan janda dengan pria yang belum menikah).

Ada pula mengisahkan sepanjang hidupnya telah bekerja. Saat sekarang  bukan sekedar bekerja. yang ingin dicapai kembali ke alam. Mendapatkan makna hidup. Syaratnya dekat dengan Pokok Anggur ( Yesus) maka berkat akan hadir ditengah keluarga. Ayahnya telah menyontohkannya. Intinya perjuangan hidup memang perlu diperjuangkan.

Ada pula yang merefleksikan bahwa rencana Tuhan tidak selalu selaras dengan keinginan kita. Pensiun bukan hal yang menakutkan. Apapun kondisinya optimalkan saja. Yang penting open mind dan positive thinking. Saat ini kawan kami kembali kuliah sambil bekerja. Ia merasakan hidup akan mengalir dan harus dioptimalkan.

Ada pula kawan dari Medan yang merasakan banyaknya kasih Tuhan yang terima. Misalnya menjadi pegawai negeri walau menunggu hampir 14 tahun. Sekarang saatnya mengembalikan dan mengembangkan berkat ke banyak orang.

Ada pula yang  mengatakan bahwa dia sungguh dimanja Tuhan. Begitu banyak kemudahan baik karir maupun kehidupan rumah tangga.
Ketika saya merasa tidak ada apa apanya atau tidak tahu  apa apa kog dipercaya dan diberi kesempatan. Intinya dikasih banyak hal dan sekarang saatnya memberikan kembali agar jadi berkat. Begitu banyak sharing yang sudah kami dapatkan.

Yang dapat saya simpulkan, bahwa kita selalu diberi kesempatan baru untuk  melakukan sesuatu yang benar, yang kita rindukan dalam mengisi hidup kita termasuk setelah pensiun.

Kita selalu bisa memperbaiki kekurangaan yang ada dan yang pernah ada dan melanjutkan alur cerita ke depannya sampai saat usia yang sudah ditetapkanNYA.

intinya, kita yang pernah merasakan kegagalan  dalam hidup akan lebih menghargai kehidupan. Kita yang pernah jatuh akan sangat menghargai arti kejatuhan,
Kita yang telah terkuras air matanya akan semakin mengerti betapa mahal arti setetes air mata. Semua perasaan, pengalaman, setiap kondisi apapun adalah pupuk untuk pohon kehidupan yang tumbuh dalam jiwa kita. Inilah modal kita ke depan.

Ketiga lahir keakraban para istri. Mereka bertambah intens dengan saling mengenalkan diri baik secara verbal maupun terbangun saat membuat rujak, saat makan pagi atau makan siang bahkan saat membungkus door prize

Keempat lahirlah generasi baru. Anak anak menjadi akrab dan membentuk komunitas tersendiri. Melalui merekalah makna persaudaraan kita mendapat makna baru:
Anak anak kita  menjadi simbol  penghubung masa lalu kita  dan masa depan angkatan kita. Henry menamakan anak Kandang  dengan moderator Rm Hadi.

Kelima: panitia yang luar biasa. Ada yg bertanya apa kekuataan utama dalam sebuah reuni?  Uang yang berlimpah? Bukan.
Makanan berlebihan dan mewah? Bukan.
Acara glamor dan hebat? Bukan
Banyak pembicara hebat?Bukan.
Lalu apa?
Dalam reuni  yang kita hadapi adalah manusia, bukan mesin.
Yang dibutuhkan kasih, ketulusan dan komitmen.
Inilah yang kami rasakan dari panitia.
Terima kasih kepada Bunarto dan istri. Dadang dan istri, Hendri dan istri  Supriyohadi dan istri  dan Jack hitam.

Kelima hal ini dirangkum dengan indahnya dalam lagu yang dibuat khusus untuk angkatan kami dengan judul Kepingan Hidup Terindah karya Agus Pacem.

Saat saya lihat berbagai foto yang di post teman teman terbayang bila Satu hari nanti saat anak cucu kita melihat foto foto reuni ini dan bertanya? “Siapa mereka semua ?
Dan saya  tersenyum dengan berbagai macam perasaan dan berkata,” Bersama  merekalah ada saat saat  yang sungguh INDAH dalam hidupku.” Mereka para imam dan non imam kawan seangkatan  yang menjadi kawan seperjalanan dalam kehidupan riil kami. Kami saling mendukung dan saling mendoakan dalam mengarungi kehidupan ini”

Teman teman angkatanku menjadi Kepingan Hidup Terindah hidup saya dan istri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here