Butir-butir Lectio Brevis Romo Sardi

0
292
Rm. Leo Sardi SJ

Pada saat yang disepakati tiba, 27 Desember 2018, kami para Koretans, KPP-1982/KPA-1986, berkumpul dan bertemu di Seminari Mertoyudan, pulang kandang. Disambut dengan gembira oleh para staf, dan, terutama, salah satu anggota Koretans : Romo Leo Agung Sardi, SJ.

Acara inti bukan kangen-kangenan, tetapi audiensi dengan Rektor. Mendengarkan beliau berkisah tentang Seminari Mertoyudan. Kami sebenarnya hanya ingin mendengarkan kisah spontan beliau. Tetapi, ternyata, disiapkan dengan sungguh dalam 6 lembar ketik folio, tersimpan dalam stofmap. Selalu, sejak dulu, Sardi, LA, sangat cermat dan rapi.

Berikut rangkuman Lectio Brevis yang disampaikan di Kapel Besar dan dicatat ringkasannya oleh Juan Sumampouw dan AC Eko Wahyono.

Remah 1 : Salah satu hal pertama yang dilakukan Sardi sebagai rektor adalah beraudiensi dengan semua seminaris. 45 menit untuk tiap seminaris.

Remah 2 : Sardi suka ikut main balbalan dengan para seminaris. Biasanya keluar lapangan duluan menjelang jam sembahyang brevir.

Remah 3 : Sardi sadar sekali tentang tuntutan dan tantangan generasi milenial, juga dalam hal teknologi komunikasi digital. Dia ingin para seminaris tidak ketinggalan zaman, tapi juga mengingatkan bahwa sarana yang membuat kita selalu terkoneksi ini tidak jarang justru memutus koneksi dengan orang-orang terdekat di sekitar kita.

Remah 4: Beberapa waktu lalu seminari mendapat perhatian banyak orang berkat proyek rangkaian konser koor yang bagus. Tapi dalam misa mingguan di seminari sendiri kok tidak tampak bagus? “Hidup itu bukan proyek, tapi yang nyata sehari-hari,” kata Sardi.

Remah 5 : “Mendengar sharing Romo Sardi, kita jadi yakin bahwa seminari ini is in the right hands,” kata Darisman. Dan kita semua mengamininya.

Remah 6 : Rupanya tidak akan ada lagi proyek besar, seperti : Gedung Serba Guna itu. Fokus pembinaan pada pengembangan pribadi. Dalam The Charateristics of Jesuit Education, pendekatan ini disebut cura personalis, personal care. Dan Romo Sardi akan fokus pada bidang ini.
Latar belakang keilmuan dan pengalaman sebagai formator sangat memadai.
Ia juga menugasi salah satu staf yang lulusan S-3, bidang Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang untuk merumuskan arah dari sisi psikologi.

Remah 7 : Salut untuk Sardi yang mampu mengidentifikasi siapa kaum milenial yang menjadi subyek pendidikan imam di Mertoyudan. Mereka adalah kaum muda yang juga berkomitmen tinggi, seperti jaman kita dulu. Tapi, komitment itu sifatnya : pendek-pendek. Mereka suka dengan proyek. Ini penuturan beliau : Anak-anak, ini teks Inggris agak berat. Coba kamu duduk tenang, terjemahkan dalam diam. Ternyata, mereka bisa kerja bagus.
Jadi, tantangan ke depan adalah melatih komitmen jangka panjang. Karena imamat itu perlu komitmen jangka panjang, terus menerus.

Remah 8 : Kunci sukses untuk menjadi formator bagi kaum milenial adalah pembimbing rohani tidak jaga image, jaim. Dan dia harus tulus untuk bersama-sama mencari kehendak-Nya.

Remah 9 : Kesaksian Sardi : Saya ternyata tidak bekerja sendiri. Tuhan menggerakkan tangan-Nya dan menolong melalui keterlibatan banyak orang. Ada paguyuban ibu di pelbagai paroki, yang berdoa untuk para imam dan calon imam. Mereka mengumpulkan dana dan, bila jumlah dirasa sudah pantas, mereka anjang sana ke sini beserta dengan persembahan mereka. Ada pula beberapa donatur dari Gereja Protestan. Mereka meyakinkan bahwa Tuhan terus bekerja untuk lembaga ini.
Lanjut beliau : Dari semula saya merasa kecil, sekarang penuh semangat.

Yogjakarta, 1 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here